Internasional

Cerita Politik Minyak Arab Saudi

Administrator | Selasa, 16 Desember 2014 - 13:09:48 WIB | dibaca: 8068 pembaca

Harga minyak dunia saat ini masih dalam tren rendah. Bahkan harga minyak menyentuh titik terendah dalam 5 tahun terakhir.

Mengutip Reuters, Selasa (16/12/2014), harga minyak jenis Light Crude untuk pengiriman Desember 2014 adalah US$ 57,49/barel. Sementara minyak jenis Brent dihargai US$ 61,65/barel.

Belum lama ini, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) berkumpul di Wina, Austria. Awalnya, pelaku pasar percaya, salah satu agenda pertemuan itu adalah memangkas produksi minyak yang bisa mendongkrak harga si emas hitam.

Namun nyatanya, OPEC memutuskan tetap mempertahankan produksi 30 juta batel/hari. Keputusan ini utamanya atas desakan Arab Saudi, produsen dan eksportir minyak terbesar di dunia.

Apakah motif Arab Saudi yang enggan menurunkan produksi minyak? Apakah Arab Saudi nyaman dengan harga minyak yang rendah?

Mohammad Bazzi, Guru Besar New York University, menilai keputusan ini tidak lepas dari pertimbangan politik. Dalam kolomnya di Reuters, Bazzi memaparkan pemikirannya.

"Presiden Venezuela mengatakan, apa sebabnya Amerika Serikat (AS), Arab Saudi, dan sekutunya ingin harga minyak rendah? Dia menjawab, tujuannya adalah 'menghajar' Rusia," kata Bazzi.

Seperti diketahui, hubungan Rusia dengan AS dan negara-negara sekutunya memang sedang tidak harmonis. Hubungan ini memanas karena aksi Rusia di Ukraina.

Rusia adalah negara yang sangat bergantung kepada minyak. Hampir separuh penerimaan negara di Rusia berasal dari minyak, baik pajak maupun non pajak. Harga minyak yang turun tentunya jadi pukulan berat buat Negeri Beruang Merah.

Namun, Bazzi menilai, 'target' Arab Saudi bukan hanya Rusia. Dia menganggap, Arab Saudi juga mengincar Iran. Pasalnya, pengaruh Iran di wilayah Teluk sedang menanjak.

"Sejak invasi AS di Irak pada 2003, pusat kekuatan di Timur Tengah adalah Arab Saudi dan Mesir. Namun kini Arab Saudi mulai cemas karena pengaruh Iran semakin kuat," sebut Bazzi.

Arab Saudi juga mengecam Iran yang mendukung pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah. Sebagai balasan, Arab Saudi menjadi beking gerilyawan pemberontak Suriah.

"Pemerintah Arab Saudi tengah menggalang kekuatan di Bahrain, Yaman, Suriah, dan negara-negara lain yang khawatir akan meningkatnya pengaruh Iran. Senjata yang paling tepat untuk memukul Iran, dan juga Rusia, adalah minyak," papar Bazzi.

Selain Rusia, Iran juga merupakan negara yang sangat bergantung terhadap minyak. Lebih dari 50% penerimaan negara di Iran berasal dari minyak.

Menurut Bazzi, Arab Saudi masih cukup kuat untuk memainkan 'perang' ini selama beberapa waktu ke depan. Arab Saudi punya cadangan devisa yang cukup besar yaitu US$ 750 miliar. Bandingkan dengan Indonesia yang 'hanya' US$ 111 miliar.

"Namun, 'permainan' ini tetap saja berbahaya. Rusia dan Iran bukan tipe yang mudah menyerah. Pada akhirnya, penurunan harga minyak dunia akan berdampak pada ekonomi secara keseluruhan," tegas Bazzi.










Komentar Via Website : 0


Nama

Email

Komentar



Masukkan 6 kode diatas)